Loneliness kills, slowly but sure
![]() |
| My heart is breaking with every smile I'm faking |
Aku kesepian. Sendirian. Merana.
Aku punya teman-teman di sini tapi itu semua tetap buat aku kesepian.
Apa sih yang salah? Apa sih yang kurang?
Awal aku diterima di FKG USU, aku senang banget. Seperti mimpi yang jadi kenyataan, bisa kuliah di fakultas kedokteran gigi terbaik se-sumatera. Sudah terbayang di depan mata akan jadi apa aku ke depannya.
Tapi itu dulu, sebelum aku kenal Medan dengan seluruh isinya yang buat aku muak.
Aku nggak suka Medan. Medan itu jorok, kota besar paling jorok yang pernah aku lihat. Jakarta saja masih lebih bersih daripada tempat ini. Udaranya panas dengan polusi dan asap di mana-mana. Asap knalpot kendaraan bermotor, asap rokok orang-orang di jalannya, juga asap pembakaran sampah yang dibakar seenaknya. Polusi suara juga banyak di sini. Orang-orang selalu tidak sabar dan selalu ingin diperhatikan. Mereka senang bersuara keras, berteriak, dan yang paling parah, mengumpat. Menjijikkan. Benar-benar kota yang tidak punya aturan.
Di sini, lampu lalulintas hanya sekadar pajangan. Jangankan menaatinya, melihatnya saja para pengendara di sini tidak pernah. Apalagi para supir angkotnya. Seakan jadi kebanggaan tersendiri kalau bisa melanggar benda tinggi dengan tiga warna lampu itu. Kampungan sekali kan? Padahal ini kota besar.
Polisi di Medan juga bukan polisi yang bisa dijadikan contoh. Pos polisi di sini, kalau berisi merupakan suatu hal yang luar biasa. Hampir tidak pernah polisi menguraikan kemacetan lalu lintas. Malah hal tersebut sepertinya dibiarkan saja. Dan mereka juga sepertinya sudah kehilangan wibawa. Banyak polisi yang tidak lagi dipatuhi di sini. Entah kenapa.
Cara orang di sini bergaul sungguh tidak menyenangkan. Ada orang yang baik dan bisa dijadikan teman, tapi yang jahat dan menyakitkan hati bila didekati lebih banyak lagi. Di sini, orang akan menemani kamu saat mereka butuh dengan kamu. Saat mereka tidak buuth, kamu akan dibuang layaknya sampah yang tidak berguna. Aku muak dengan semua jenis pertemanan yang seperti itu. Meskipun, aku bersyukur punya teman seperti Jeje, Puput, Gia, Oneng, Ecyn, Dea, anak-anak sekre, abang-abang, kakak-kakak. Mereka membuat hari-hari yang aku lalui menjadi lebih menyenangkan. Saat mereka nggak ada, aku kesepian sekali. Aku berharap bisa menjaga mereka tetap dekat dengan aku meskipun kami tidak berada dalam waktu dan tempat yang sama. Sayangnya itu semua kecil kemungkinannya terjadi. Medan membuat orang sibuk dan menjadi apatis.
Aku mulai berpikir apa yang akan terjadi padaku kalau aku terlalu lama di Medan. Mungkin aku akan jadi sama jahatnya dengan orang sini, atau mungkin lebih jahat lagi. Mungkin aku akan menjadi orang yang apatis, pemarah, senang berteriak, dan jorok. Mungkin aku akan menjadi orang jahat yang kehilangan seluruh sisi baik dalam dirinya karena terlalu lama berdekatan dengan yang jahat. Seperti yang biasa orang katakan, terlalu lama berada dalam sarang penjahat dapat menjadikan orang tersebut penjahat pula.
Tapi itu semua hanya kemungkinan. Aku akan tetap menjadi diri aku yang baik. Biar kejahatan ada di dekatku, aku tidak akan berubah menjadi jahat. Aku akan berusaha sekuat tenaga supaya aku tetap menjadi baik, tetap menjadi lembut, dan tetap menjadi manusia baik. Aku akan mengikuti gerak Medan. Mau kota ini kotor, aku akan tetap bersih. Mau kota ini jahat, aku akan tetap baik. Mau kota ini marah, aku akan tetap tenang. Kesepian akan akan aku jadikan penghalang dan dinding penghadang segala kejahatan.
Biar aku sepi, biar aku sendiri. Asal aku masih aku yang sejati.

